
KISAH KAMIS: Mengenal Dimas Maulana Setiawan, Mas Spensamo Pertama yang Pantang Menyerah di Ajang OSN
Rubrik Kisah Kamis minggu ini menghadirkan cerita inspiratif dari salah satu putra terbaik SMP Negeri 1 Moga. Ia adalah Dimas Maulana Setiawan, siswa kelas 9I yang saat ini mengemban amanah besar sebagai Mas Spensamo—Duta Sekolah generasi pertama. Tidak hanya itu, Dimas juga merupakan salah satu pejuang akademik sekolah yang sempat berkompetisi di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025.
Mari kita simak perjalanan, tantangan, dan bagaimana cara Dimas memandang sebuah kegagalan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan.
Menjadi Pionir dan Wajah Sekolah
Terpilih sebagai Mas Spensamo pertama tentu memberikan kesan yang mendalam bagi Dimas. Ia mengaku bahwa pada awalnya sempat tidak menyangka akan mendapatkan amanah tersebut.
“Jujur, terpilih jadi Mas Spensamo pertama itu rasanya campur aduk. Awalnya sempat tidak menyangka sama sekali, tapi lama-kelamaan rasa bangga itu muncul karena aku dipercaya buat jadi pionir di program ini,” ungkap Dimas.
Bagi Dimas, gelar ini bukan sekadar lambang gagah-gagahan. Ia sadar ada tanggung jawab moral yang besar di pundaknya. Sebagai duta pertama, ia harus membentuk citra yang positif agar bisa menjadi inspirasi dan teladan yang baik bagi adik-adik kelasnya kelak.
Menghadapi segudang aktivitas sebagai duta sekolah sekaligus siswa kelas 9 tentu tidak mudah. Namun, Dimas memiliki strategi tersendiri dalam membagi waktu. Ia selalu menerapkan sistem skala prioritas.
“Biasanya aku cicil tugas sekolah duluan supaya pikiran lebih plong. Dengan disiplin waktu, aku jadi bisa menyeimbangkan antara tanggung jawab sebagai duta sekolah dan tetap fokus belajar sebagai siswa,” jelasnya.
Menjelajahi Logika dan Perspektif Dunia
Kecintaan Dimas pada ilmu pengetahuan membawanya melangkah ke panggung OSN 2025. Di ajang bergengsi tersebut, ia memilih bidang IPA. Alasannya sederhana namun mendalam: ia sangat menyukai bagaimana alam dan kehidupan ini bekerja.
Menariknya, langkah Dimas tidak berhenti di bidang sains saja. Siswa kelas 9I ini juga menantang dirinya untuk mengikuti English Contest.
“Keduanya aku pilih karena aku pengen terus berkembang. IPA membantu aku paham logika di sekitar kita, sementara Bahasa Inggris jadi ‘jendela’ buat aku melihat perspektif dunia yang lebih luas lagi,” tambahnya.
Ketika ditanya mengenai momen paling berkesan selama bersekolah di Spensamo, Dimas menyebutkan bahwa kesempatan untuk terkoneksi dengan banyak orang adalah hal yang paling berharga. Bertemu dengan teman-teman yang memiliki karakter berbeda telah melatih rasa percaya dirinya dan membuka sudut pandang baru dalam melihat dunia.
Menikmati Proses dan Memaknai Kegagalan
Bagi sebagian orang, kompetisi adalah tentang medali dan piala. Namun bagi Dimas, momen paling berkesan justru terletak pada proses persiapannya. Ia merasa sangat “hidup” ketika harus mendalami materi IPA yang rumit atau mengasah kemampuan bahasanya. Ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan ketika berhasil memecahkan soal-soal sulit.
Meski langkahnya di OSN 2025 kemarin belum berhasil menembus tingkat provinsi, tidak ada rasa sesal dalam diri Dimas. Ia justru menunjukkan kualitas mental seorang juara yang sesungguhnya.
“Walaupun belum lolos ke provinsi, aku belajar kalau kompetisi bukan cuma soal menang atau kalah. Aku belajar tentang proses. Kegagalan kemarin justru bikin aku sadar sampai mana batas kemampuan aku saat ini, dan itu jadi pelajaran penting yang nggak bakal aku lupain,” ujarnya dengan bijak.
Dimas tetap optimis karena ia percaya bahwa pertumbuhan karakter dan kualitas diri membutuhkan waktu. Baginya, setiap hambatan yang datang adalah cara semesta untuk membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih tangguh.
Pesan untuk Sobat Spensamo
Di akhir, Mas Spensamo kita ini memberikan sebuah pesan penutup yang sangat memotivasi untuk seluruh siswa SMPN 1 Moga yang mungkin masih ragu atau takut untuk mencoba hal baru karena takut gagal.
“Buat teman-teman di Spensamo, jangan pernah takut gagal, ya. Kegagalan itu bukan akhir, tapi cara kita belajar untuk jadi lebih bijak. Terus aja kejar mimpi kalian dengan tulus, karena proses yang kalian lewati sekarang itu sebenarnya sedang membangun fondasi buat kesuksesan kalian di masa depan. Semangat terus untuk kedepannya!” pungkas Dimas.
Dari kisah Dimas, kita belajar bahwa keberhasilan sejati bukanlah tentang seberapa banyak piala yang kita bawa pulang, melainkan tentang seberapa berani kita melangkah, menikmati proses belajar, dan bangkit kembali dengan senyuman setelah menghadapi kegagalan.





2 tanggapan untuk “KISAH KAMIS: Mengenal Dimas Maulana Setiawan, Mas Spensamo Pertama yang Pantang Menyerah di Ajang OSN”
Terima kasih banyak kepada teman-teman OSIS, khususnya tim KISAH KAMIS Spensamo, yang sudah memberikan kesempatan dan dedikasinya dalam mengemas cerita ini. Apresiasi setinggi-tingginya saya ucapkan — dukungan kalian bukan hanya berarti bagi saya pribadi, tetapi juga menjadi dorongan semangat untuk terus berkontribusi. Semoga Spensamo semakin maju, semakin berprestasi, dan terus menjadi wadah inspiratif bagi siswa-siswi lainnya. Terus bersinergi untuk Spensamo yang lebih baik! ☺️🙏🏻
Semoga pengalaman ini menjadi motivasi untuk terus berkembang, menginspirasi teman-teman lainnya, dan membawa nama baik Spensamo. Tetap semangat berkarya dan berprestasi 🙏🏻✨